Kamis, 16 Maret 2017

Selamat Tinggal KH. Hasyim Muzadi, Semoga Anda Berada di sisiNYA, Aamiin...


Kabar duka menyelimuti Indonesia, Kamis (16/3/2017) pagi hari ini. Kiai Hasyim Muzadi, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sekaligus anggota Dewan Pertimbangan Presiden Joko Widodo, meninggal dunia. Informasi wafatnya KH Hasyim Muzadi itu kali pertama disebar oleh Menteri Agama Luman Hakim Saifuddin melalui akun Twitternya, @lukmansaifuddin.
"Telah wafat KH Hasyim Muzadi pagi ini. Mari doakan almarhum diampuni kesalahannya, diterima amal bajiknya, berada di sisiNya.
Al-faatihah," tulisnya.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi yang juga warga NU Mahfud MD, turut menuliskan kabar duka tersebut di akun Twitternya, @mohmahfudmd.
"Innaa lillaah wa inna ilaihi raji'un. KH Hayim Muzadi telah wafat pagi ini jam 6.15. Semoga mendapat surga-Nya. Kita pun akan lewat jalan yang sama," tulis Mahfud.
Selain dari kedua pembesar itu, kabar duka tersebut juga disebar melalui layanan pesan singkat telepon seluler oleh Ustaz Yusron Shidqi, putra Hasyim Muzadi.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kullu nafsin dzaiqotul maut. Lahu ma akhodz wa lahu ma a'tho.Telah meninggal dunia KH Ahmad Hasyim Muzadi, ghafarallahu lahu, pada pagi ini, Kamis, 16 maret 2017 sekitar pukul 6.15 WIB. " demikian pesan singkat tersebut.
Jenazah almarhum Kiai Hasyim rencananya akan diterbangkan dari Kota Malang, Jawa Timur, ke Pesantren Al Hikam, Jl H Amat, Kukusan, Beji, Kota Depok, Jawa Barat, siang ini.
Sehari sebelum, Rabu (15/3), Kiai Hasyim sempat dijenguk Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo di kediaman sang kiai di Jalan Cengger Ayam, Malang, Jawa Timur.

Jumat, 09 Desember 2016

Ciri-Ciri Pengikut Imam Ali bin Abi-Thalib,?...

๐ŸŒน๐ŸŒน" Ingin Tahu Ciri-Ciri Pengikut Imam Ali bin Abi-Thalib,??? "๐ŸŒท๐ŸŒท
1. ๐ŸŒท Seorang mu'min haruslah pandai dan cerdas.wajahnya selalu menggambarkan kegembiraan,walau hatinya sedang sedih dan gelisah.
2. ๐ŸŒท Dia bukan orang yang hasud dan pendendam ,juga bukan orang yang menyebarkan kemungkaran serta tidak mengunjung (ghibah) seseorang.
3. ๐ŸŒท Dia tidak menyukai maqam dan kepemimpinan,berjalan dengan tenang ,serta selalu ingat kepada allah swt.
4. ๐ŸŒท Dia bersabar atas musibah dan bersyukur atas nikmat-nikmat allah swt.
5. ๐ŸŒท Jika Allah mencoba dengan kefakiran dan kemiskinan,dia merasa senang dan gembira.
6. ๐ŸŒท Akhlaq dan perilakunya (dalam bermasyarakat) baik dan tidak menyakiti dan melecehkan orang.
7. ๐ŸŒท Dia tersenyum dan tidak terbahak-bahak keras saat tertawa.
8. ๐ŸŒท Ketika bertanya dengan seseorang ,tujuannya adalah untuk mendapatkan manfaat dari orang tersebut, bukan untuk mengujinya apakah dia memiliki ilmu yang banyak ataukah tidak.
9. ๐ŸŒท Hatinya dipenuhi kasih sayang dan bukan orang yang kikir ,tidak terburu-buru dalam bertindak,dan manis tutur katanya.
10. ๐ŸŒท Dia tidak menyusahkan atau merepotkan ketika datang kepada seseorang ,dan jika kemarahan menguasainya,dia tetap bersikap adil.
11. ๐ŸŒท Selalu menepati bila berjanji ,tidak berbicara omong kosong ataupun yang tidak berarti.
12. ๐ŸŒท Syukur dan ridha kepada seluruh pemberiaan Allah swt, menentang hawa nafsunya dan tidak menyulitkan kawan-kawanya.
13. ๐ŸŒท Seluruh hidupnya adalah untuk menolong agama dan selalu berfikir untuk membantu ,menentramkan,dan menjadi tempat bargantung (berlindung) bagi kaum muslimin.
14. ๐ŸŒท Jika seseorang memuji,dia tidak merasa malambung ,yang kemudian berdampak dihatinya.ketamakan(keserakahan) tidak menyelimutinya hatinya sehingga lalu berbuat di luar tugas dan tanggung jawab.
15. ๐ŸŒท Pandangan (harapan)nya tidak untuk dapat memberikan manfaat kepada ummat dan merasa kecil (rendah hati) di hadapan semua.
16. ๐ŸŒท Dia dermawan,namun tidak berlebihan(ekstrim).dan tidak pernah menipu dan memperdaya seorangpun serta tidak meremehkan
jerih payah orang lain.
17. ๐ŸŒท Dia menjadi tempat bergantung orang-orang yang terdesak dalam kesusahan ,menolong orang-orang yang terdhalimi ,dan tidak menyebarkan rahasia seseorang yang di sampaikan kepadanya.
18. ๐ŸŒท Dia selalu menyebutkan kebaikan yang dilihatnya pada seseorang,dan tidak menyebarkan keburukan yang dilihatnya.
19. ๐ŸŒท Dia memalingkan diri dari keburukan orang,namun jika mereka minta maaf kepadanya ,dia akan menerimanya.selalu berprasangka baik kepada orang lain serta menyalahkan dirisendiri.
20. ๐ŸŒท Dia selalu mengenang para ulama dengan keutamaan ilmu dan pengetahuan Ilahinya.jika datang kepadanya seorang bodoh,dia akan mengajarinya.
21. ๐ŸŒท Tidak mencari aib dan kesalahan orang,tetapi selalu menyalahkan perbuatan dan tindakanya sendiri sebab,dengan melihat kesalahan diri sendiri,dia tidak akan melihat kesalahan orang lain.
22. ๐ŸŒท Selalu bersemangat dalam memperbaiki jiwanya,tidak mengurusi orang lain,dan tidak berharap kepada selain allah.
23. ๐ŸŒท Dia menjadi orang asing di tengah-tengah umat dan berusaha menjalankan perintah-perintahAllah, sehingga dapat mengamalkan apa yang menjadi keridhaan.
24. ๐ŸŒท Dia selalu bersama fakir miskin, membantu umat dalam perkara yang baik, dan sepert iseorang ayah yang penuh kasih sayang di hadapan anak-anak yatim.
25. ๐ŸŒท Dalam setiap perkara dan masalah yang ingin dilakukannya, dia selalu memikirkan dan merenungkan dengan baik serta menjalankannya dengan penuh kehati-hatian.
26. ๐ŸŒท Karena dia menjalankan hidup dengan kondisi selalu merasa cukup (qana'ah) dan menjaga harga diri, maka orang lain menganggapnya orang kaya.
27. ๐ŸŒท Dia mengendalikan kekang hawa nafsunya, sehingga sama sekali tidak dapat menjerumuskannya pada hal-hal yang tidak selayaknya.
28. ๐ŸŒท Ucapan-ucapanya berdasarkan kebenaran serta hakikat, dan pakaiannya selalu sederhana.
29. ๐ŸŒท Tidak merasa rugi dengan hilang dan perginya segala sesuatu yang dimilikinya, tidak pernah mengharapkan hal-hal yang tidak patut atau yang tidak pantas.
30. ๐ŸŒท Ilmu dan pengetahuannya terkait dengan kesabaran dan keteguhan : akal dan ilmunya seiring dengan kesabaran dan ketegaran.
31. ๐ŸŒท Tidak tampak tanda-tanda kemalasan dan kelelahan dari fisik dan jiwanya; manusia selalu melihatnya dalam keadaan bersemangat dan gembira.
32. ๐ŸŒท Angan-angannya sedikit dan selalu mempersiapkan diri dalam menanti kematian. Oleh karena itu,hatinya khusuk, lisannya berzikir, dan jiwanya merasa cukup (qana'ah).
33. ๐ŸŒท Dia selalu mengingat dosa-dosa yang telah dilakukannya, dengan penuh penyesalan dan kesedihan.
34. Para tetangga merasa nyaman denganya; dia menjalin hubungan dengan umat agar sesuatu dapat bermanfaat bagi mereka dan mengajarkan ilmu kepada mereka.
35. ๐ŸŒท Ketika duduk bersama orang-orang kebanyakan, diam diam agar tidak menyakitikan mereka. Dan dia selalu menyibukkan diri, sehingga mereka merasa nyaman dengannya.
36. ๐ŸŒท Dia bersabar atas setiap kedzaliman yang menimpanya, sehingga Allah menolongnya dan mengembalikan haknya dari yang mendzaliminya

๐ŸŒท๐ŸŒนKemudian Imam Ali berkata.:
"Mereka adalah pelita-pelita yang benderang di atas bumi. Dan mereka adalah pengikut-pengikut (syiah) kami, juga terhitung sebagai sahabat –sahabat kami.Mereka bersama kami dan kami bersama mereka."๐ŸŒท

Israel dan media di indonesia

Rabu, 07 Desember 2016

Keindahan dan Kemegahan Masjid Agung Bangkalan - Makam Syaichona Kholil,...

Doa dan Dzikir Peziarah Menggema Sepanjang Hari

Hampir setiap hari makam ulama besar KH MOH KHOLIL, tak pernah sepi oleh para peziarah yang datang dari berbagai daerah. Mereka datang untuk berdoa kepada Allah S.W.T, agar keinginan yang dimohonkan cepat terkabul. Ada yang ingin shaleh seperti almarhum semasa hidupnya, cepat mendapatkan jodoh, ingin naik pangkat, dan sebagainya.

Kompleks pesarean KH Moh Kholil di Desa Mertajasah, Kecamatan Kota Bangkalan dengan luas 2.768 m2 itu, sejak dahulu sangat dihormati bukan saja oleh masyarakat Pulau Madura. bahkan terkenal hingga ke pelosok Nusantara, serta negara-negara tetangga.

Pesarean yang dirawat para cucu KH Moh Kholil, boleh dikatakan lengkap untuk kepentingan para peziarah dan ahli tirakat. Dari masjid untuk bersembahyang, aula sebagai peristirahatan peziarah, terutama bagi yang ingin bermalam. Demikian pula kantor pengurus yang dijaga setidaknya 5 orang sebagai tugas harian.

Dari jantung kota Bangkalan, pesarean itu hanya berjarak 4 km. Setiap hari tak kurang ratusan peziarah dan ahli tirakat menggaungkan dzikir dan ayat suci Al Qur'an, merupakan agenda harian yang tak pernah kunjung surut.

Tentu saja, kedatangan para peziarah tidak hanya ingin dzikir atau berdoa di pesarean Syekh Moh Kholil. Namun ada permohonan yang tersirat dari kalbu mereka. Diantaranya memohon barokah ingin cepat segala hajatnya terkabul, ingin sembuh dari penyakit. Mencari jodoh, ingin naik pangkat.

Pesarean KH Moh Kholil tidak sama dengan makam-makam sunan Wali Songo yang tersebar di pulau jawa. Karena Pesarean KH Moh Kholil terbuka untuk umum 24 jam, dan hanya pada waktu tertentu saja didatangi peziarah.

Masjid Syekh Moh. Kholil bin Abdul Latief di Desa Martajasah, Bangkalan - Madura
Masjid Syekh Moh. Kholil Desa Martajasah

Dalam catatan buku tamu, pesarean KH Moh Kholil setiap harinya dikunjungi tak kurang 750-1500 wisatawan dan 250-500 peziarah. Jumlah ini menurut Drs, fathur Rahman Said SH yang pernah mengadakan penelitian untuk kepentingan menyusun Skripsinya, belum termasuk pengunjung yang berdomisili Bangkalan dan para santri yang terbiasa tidak melapor ke pesarean.

Fathur Rahman menambahkan, peziarah yang duduk terperkur dan bersimpuh dalam ruangan kecil berukuran 4,5 X 10 m2 dengan beragam doa dan mengalunkan ayat suci Al Qur'an yang membuat suasana jadi sakral, berdatangan dari Bogor, Sukabumi (Jawa barat), Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Bali, bahkan dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Ditambah lagi dari Jawa Timur yang umumnya para santri yang ada hubunganya dengan KH Moh Kholil.

Selanjutnya: Sejarah dan Kisah Tentang Syaichona Moh Kholil Bangkalan

Pusara KH Moh Kholil yang dikeramatkan itu boleh dikatakan sangat sederhana. Sebab hanya ditandai oleh dua buah batu nisan yang dibungkus oleh puluhan kain putih. Sehingga tampak isan tersebut sangat besar. kain putih tersebut dipasang oleh para peziarah yang merasa hajatnya telah dikabulkan.

Pusara KH Moh Kholil bersebelahan dengan pusara anaknya, yaitu KH Moh Imron Kholil, sedang di sebelah selatanya terdapat pusara menantunya. Yaitu KH Muntaha, ketiga pusara itu berada dalam satu tempat yang terpisah dengan makam-makam yang lain
Sumber (Hori)

Sabtu, 03 Desember 2016

ANTARA IMAN, MUNAFIQ DAN KAFIR ?....




Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Rahasia Kumpulan ayat AL-QUR'AN dibalik angka 212 Jihad ala AKSI DAMAI PEMBEDA ANTARA IMAN, MUNAFIQ DAN KAFIR
Apakah ini Petunjuk dari Allah atau hanya ketepatan saja...

DEMI ALLAH TIDAK ADA YANG LUPUT SESUATU APAPUN KECUALI ATAS KEHENDAK ALLAH...
QS: 212
ุงู„ุง ุงู†ู‡ู… ู‡ู… ุงู„ู…ูุณุฏูˆู† ูˆู„ูƒู† ู„ุง ูŠุดุนุฑูˆู†
Ingatlah, Sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadari.
QS Al-Baqoroh, 212
ุฒูŠู† ู„ู„ุฐูŠู† ูƒูุฑูˆุง ุงู„ุญูŠุงุฉ ุงู„ุฏู†ูŠุง ูˆูŠุณุฎุฑูˆู† ู…ู† ุงู„ุฐูŠู† ุขู…ู†ูˆุง، ูˆุงู„ุฐูŠู† ุงุชู‚ูˆุง ููˆู‚ู‡ู… ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ، ูˆุงู„ู„ู‡ ูŠุฑุฒู‚ ู…ู† ูŠุดุงุก ุจุบูŠุฑ ุญุณุงุจ
"Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia daripada mereka di hari qiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.
QS Asyu'ara, 212
ุงู†ู‡ู… ุนู† ุงู„ุณู…ุน ู„ู…ุนุฒูˆู„ูˆู†
"Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengar AL-QUR'AN itu.
QS, Al Anbiya' 21, 2
ู…ุงูŠุงุชูŠู‡ู… ู…ู† ุฐูƒุฑ ู…ู† ุฑุจู‡ู… ู…ุญุฏุซ ุงู„ุง ุงุณุชู…ุนูˆู‡ ูˆู‡ู… ูŠู„ุนุจูˆู†
"Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Qur'an pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main.
Apakah ini kebetulan saja... INI ADALAH ISYAROH TEGAKNYA DIIN ISLAM DAN SYARE'ATNYA DI BUMI INDONESIA.
"Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas Segala Sesuatu, dan Sesungguhnya Allah, Ilmu-Nya Benar-benar meliputi Segala Sesuatu." (Ath Thalaq; 12)
"Dia Mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia Mengetahui (pula)..."(QS Al An'am: 59)

Minggu, 27 November 2016

Siapakah 12 Khalifah/Imam yang Disinggung oleh Rasul dalam Hadis-Hadis Sahih Tersebut?



.
Para ulama dari Ahlusunah wal Jamaah menghadapi kebingungan yang parah ketika ingin menjelaskan dan menafsirkan hadis yang menyatakan “Imam/Khalifah berjumlah 12 orang” tanpa menemukan artinya, apalagi untuk bersepakat akan pribadi-pribadi tersebut. Ditambah lagi dengan adanya hadis yang mengkhususkan bahwa kedua belas orang itu semuanya dari Bani Hasyim, ini semakin membingungkan mereka. Kebingungan itu diakui oleh seorang tokoh ulama Ahlusunah sendiri, Ibnu Hajar dalam “Kitab Fathul-Bari fi Syarh Sahih Al-Bukhari” (Lihat, Edisi II, Cetakan Darul Ma’arif-Beirut, Jilid 13, Hal 183) yang mengatakan; “Aku tidak menemukan seorangpun yang mengetahui secara pasti arti dari hadis ini”. Kebingungan yang sama juga diakui oleh Ibnu Jauzi dalam “Kitab Kasyful Musykil” ketika berbicara tentang hadis 12 Khalifah tersebut. Inti dan singkatnya, kebingungan diantara mereka berakhir pada, seorang ulama akan menafikan dan mengingkari pendapat ulama yang lain, bahkan menvonis ulama lain tersebut sebagai bodoh, sesat dan sebutan negatif lainnya. Sekarang tugas anda para pembaca yang budiman untuk meneliti atau mempertanyakan, Siapakah 12 orang dari suku Quraisy dan terkhusus lagi dari Bani Hasyim yang layak dan berhak menduduki kepemimpinan umat Islam, pasca wafat Rasulullah? Silahkan merujuk kesegenap ulama Ahlusunah yang ada di sekitar anda, niscaya akan anda dapati kebenaran ungkapan Ibnu Hajar bahwa mereka tidak ada kesepakatan dan mengalami kebingungan yang hebat. Silahkan buktikan!!!

Siapakah 12 Khalifah/Imam yang Disinggung oleh Rasul Tersebut?

Para ulama dari Ahlusunah wal Jamaah menghadapi kebingungan yang parah ketika ingin menjelaskan dan menafsirkan hadis yang menyatakan “Imam/Khalifah berjumlah 12 orang” tanpa menemukan artinya, apalagi untuk bersepakat akan pribadi-pribadi tersebut.
Sehingga hal ini diakui oleh seorang tokoh ulama Ahlusunah sendri, Ibnu Hajar dalam “Kitab Fathul-Bari fi Syarh Sahih Al-Bukhari” (Lihat, Edisi II, Cetakan Darul Ma’arif-Beirut, Jilid 13, Hal 183) yang mengatakan; “Aku tidak menemukan seorangpun yang mengetahui secara pasti arti dari hadis ini”. Kebingungan yang sama juga diakui oleh Ibnu Jauzi dalam “Kitab Kasyful Musykil” ketika berbicara tentang hadis 12 Khalifah tersebut. Inti dan singkatnya, kebingungan diantara mereka berakhir pada ulama satu akan menafikan dan mengingkari ulama yang lain, bahkan menvonis ulama lain terebut sebagai bodoh, sesat, dan sebutan negatif lainnya.
Sekarang mari kita lihat dengan seksama dan dengan teliti redaksi masing-masing hadis yang telah tercantum dalam kitab-kitab standart Ahlusunah wal Jamaah ini:
1- Imam Bukhari dalam Sahih Bukhari menuliskan:
Jabir berkata: Aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: “Akan ada dua belas Pemimpin dan Khalifah.” Kemudian beliau menambahkan sesuatu yang tidak bisa aku dengar. Ayahku berkata bahwa Rasulullah .s.a.w bersabda: “Semuanya dari suku Quraisy.”
(Lihat: Sahih Bukhari, Kitab Al-Ahkam, no 6682, Jilid 4, Hal 168, Cetakan Mesir, Tahun 1351. Bisa juga dilihat dalam; Sahih Muslim (dengan syarah An-Nawawi), Kitab Al-Imarah, no 3393, 3394, 3394, 3395, 3396 & 3397, Cetakan Mesir, Tahun 1334. Sunan At-Turmudzi, Kitab Al-Fitan, no 2149. Sunan Abi Dawud, Kitab Al-Mahdi, no 3731)

2- Imam Muslim dalam Sahih Muslim menulskan:
Jabir meriwayatkan: Aku dan ayahku menemui Rasulullah s.a.w. Kami mendengar beliau bersabda: “Persoalan ini (Kekhalifahan) tidak akan berakhir sampai datang dua belas Khalifah.” Kemudian beliau menambahkan sesuatu yang tidak kudengar. Aku menanyakan kepada ayahku tentang apa yang Rasulullah s.a.w sabdakan. Beliau (Rasul) bersabda: “Semuanya dari Quraisy.”
(Lihat: Sahih Muslim (dengan syarah An-Nawawi), Kitab Al-Imarah, Jilid 6, Hal 3, no 3393, Cetakan Mesir, Tahun 1334)

3- Imam Muslim dalam Sahih Muslim menuliskan:
Rasulullah s.a.w bersabda: “Agama ini (Islam) akan tetap berdiri sampaiampai dua belas Khalifah, yang semuanya dari golongan Quraisy, memerintah atas kalian.”
(Lihat: Sahih Muslim (dengan syarah An-Nawawi), Kitab Al-Imarah, Jilid 6, Hal 4, no 3398, Cetakan Mesir, Tahun 1334. Juga terdapat hadis yang mirip dengan ini dalam Sahih Muslim, dengan perbedaan redaksi)

4- Imam Muslim dalam Sahih Muslim menuliskan:
Jabir meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah s.a.w yang agung bersabda: “Islam akan selalu besar hingga datang dua belas Imam. (Jabir berkata), kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti. Aku bertanya pada ayahku, apa yang beliau katakan? Beliau (Rasul) menjawab: “Semuanya dari golongan Quraisy.”
(Sahih Muslim (dengan syarah An-Nawawi), Kitab Al-Imarah, Jilid 6, Hal 3, no 3398, Cetakan Mesir, Tahun 1334)

5- Imam Turmudzi dalam Sahih Turmudzi menuliskan:
Jabir berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: “Akan ada dua belas Imam dan Pemimpin setelahku.” Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tak dapat kumengerti. Aku menanyakan pada seseorang di sampingku tentang itu. Dia berkata: “Semuanya dari golongan Quraisy.”
(Hadis ini dinyatakan ‘Baik’ dan ‘Sahih’ oleh Imam At-Turmudzi sendiri, diriwayatkan oleh Jabir dengan jalur Sanad yang berbeda. Lihat: Sahih Turmudzi, Jilid 2, Halaman 45, no 2149, Cetakan New Delhi, Tahun 1342. Hal yang sama dikutip dari Jabir oleh Imam Abi Dawud dalam Sahih Abi Dawud, Kitab Al-Manaqib, Jilid 2, Halaman 207, no 3731, Cetakan Matba’ah Taziyah-Mesir)

6- Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnad Ahmad menuliskan:
Rasulullah s.a.w bersabda: “Terdapat dua belas Khalifah untuk umat ini.”
(Lihat: Musnad Ahmad, Musnad Basyriyin, Jilid 5, Halaman 106, Cetakan Matba’ah Maymaniyah-Mesir, Tahun 1313. Imam Ahmad dalam Musnad beliau telah menukil tiga puluh empat rantai hadis yang berlainan dalam masalah ini yang semuanya dari Jabir)

7- Imam Abu Dawud dalam Sahih Abi Dawud menuliskan:
Masyruq berkata: Kami duduk bersama Abdullah bin Mas’ud, mempelajari Al-Quran darinya. Seseorang bertanya kepadanya: Apakah engkau menanyakan kepada Rasulullah s.a.w tentang berapa Khalifah yang akan memerintah umat ini? Ibnu Mas’ud menjawab: Tentu saja kami menanyakan hal ini kepada Rasulullah s.a.w dan beliau menjawab: “Dua belas, seperti jumlah pemimpin Bani Israil.”
(Lihat: Musnad Ahmad bin Hambal, Musnad Al-Mutaakhirin minas Shahabah, Jilid 1, Halaman 398, no 3595 dan 3665, juga Jilid 13, Halaman 182, Cetakan Darul-Makrifah, Edisi Kedua. Ibnu Hajar dalam Kitab Fathul-Bari fi Syarhi Sahih Al-Bukhari menganggap kutipan Imam Ahmad bin Hambal dari Ibnu Mas’ud sebagai riwayat hadis dengan sanad yang baik)

8- Imam Abu Dawud dalam Sahih Abi Dawud menuliskan:
Rasulullah s.a.w bersabda: “Agama ini akan tetap agung sampai datang dua belas Imam.” Mendengar hal ini, orang-orang mengagungkan Allah dengan berkata: “Allahu Akbar!” (Allah Maha Besar) dan menangis keras. Kemudian beliau (Rasul) mengatakan sesuatu dengan suara yang pelan. Aku bertanya kepada ayahku: “Apa yang beliau katakan?” Beliau menjawab: “Mereka semua dari golongan Quraisy.”
(Lihat: Sahih Abi Dawud, Jilid 2, Halaman 309, Cetakan Darul-Fikr, Edisi Pertama, Tahun 1410)

9- Al-Hakim An-Naisaburi dalam Mustadrak ‘alas Sahihain menuliskan:
Awn mengutip dari ayahnya Abu Juhaifah sebagai berikut; Aku dan pamanku sedang bersama Rasulullah s.a.w, ketika itu beliau bersabda: “Urusan umatku akan terus berlalu sampai datang dua belas Khalifah.” Kemudian beliau memelankan suaranya. Aku bertanya kepada pamanku yang duduk di depan, tentang apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah s.a.w. Lantas ia menjawab: “Wahai anakku, Rasulullah bersabda bahwa mereka semua dari golongan Quraisy.”
(Lihat: Mustadrak ‘alas Sahihain, Jilid 3, Halaman 618, Cetakan Haidar Abad Press, Tahun 1334. Juga Nuruddin Al-Haitsami dalam Kitab Majma’ Az-Zawa’id, Jilid 5, Halaman 190 mengenai hadis ini mengatakan: “At-Tabrani dalam kitab Al-Mu’jam Al-Ausath dan Al-Mu’jam Al-Kabir, dan Bazzaz juga mengutip hadis ini. uga mengutip hadis ini. Sanad hadis nukilan At-Tabrani sama dengan apa yang tercantum dalam kitab Sahih.”)

10- Imam At-Tabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir menuliskan:
Jabir meriwayatkan, aku dan ayahku sedang berhadapan dengan Rasulullah s.a.w ketika beliau bersabda: “Pemerintahan dan Khalifah umat ini akan berjumlah dua belas. Mereka tiada akan menderita meskipun orang-orang tidak memberikan pertolongan.” Lantas beliau menambahkan sesuatu yang tidak kudengar. Aku menanyakan hal itu kepada ayahku. Rasulullah mengatakan bahwa mereka semua dari golongan Quraisy.
(Lihat: Kitab Al-Mu’jam Al-Kabir karya At-Tabrani, Jilid 2, Halaman 196, Cetakan Maktabah Ibnu Taimiyah, Edisi Kedua)

Perlu dicatat bahwa kata “Mereka tiada akan menderita meskipun orang-orang tidak memberikan pertolongan” dalam hadis diatas tadi ingin menjelaskan bahwa, legalitas dan keabsahan kepemimpinan mereka tidak tergantung dari pengakuan masyarakat luas. Bukti bahwa kepemimpinan mereka adalah kepemimpinan Ilahi, sebagai penerus kepemimpinan Rasul atas umat beliau.

11- Imam At-Tabrani dalam Kitab Al-Mu’jam Al-Kabir menuliskan:
Jabir berkata: Aku mendengar khutbah Rasulullah s.a.w akan ada dua belas Wali (Pemimpin) dari Quraisy, yang perlakuan jahat musuhnya tidak akan membahayakan mereka. lantas aku berbalik dan melihat ayahku beserta Umar diantara para hadirin. Mereka menegaskan hadis itu, sebagaimana yang kudengar.
(Lihat: Kitab Al-Mu’jam Al-Kabir karya At-Tabrani, Jilid 2, Halaman 256, Cetakan Maktabah Ibnu Taimiyah, Edisi Kedua)

Perlu dicatat bahwa kata “perlakuan jahat musuhnya tidak akan membahayakan mereka” dalam riwayat diatas merupakan fakta bahwa Khalifah/Imam yang disebut-sebut haruslah dari kedua belas orang tersebut, meskipun secara zahir mereka tidak menjabat dan memegang tampuk kepemimpinan dan berkuasa atas umat Rasulullah.

12- Syeikh Sulaiman Al-Qonduzi Al-Hanafi dalam Kitab Yanabi’ Al-Mawaddah menuliskan:
Jabir berkata, Aku dan ayahku berada di hadapan Rasulullah s.a.w ketika beliau bersabda: “Akan ada dua belas Khalifah setelahku.” Kemudian beliau memelankan suaranya. Aku bertanya kepada ayahku tentang apa yang dikatakan oleh Rasulullah s.a.w dengan suara pelan. Ia menjawab bahwa, Rasul s.a.w bersabda: “Mereka semua berasal dari Bani Hasyim.”
(Lihat: Kitab Yanabi’ Al-Mawaddah, Jilid 2, Halaman 315)

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa para Khalifah/Imam tadi bukan hanya sekedar dari suku Quraisy saja, namun lebih spesifik dan dikhususkan pada Bani Hasyim. Karena hadis tentang Quraisy bersifat umum dan diperjelas secara khusus dengan hadis Bani Hasyim.
Itu tadi adalah sebagian contoh dari hadis-hadis yang kita dapat nukil berkaitan dengan keberadaan 12 Khalifah pasca Rasul. Sekarang tugas anda para pembaca yang budiman adalah,
– Pertama: Coba terapkan antara jumlah 12 orang itu dengan realitanya! Jika Khulafaurrasyidin yang 4 itu dimasukkan ke dalam jumlah 12, ditambah dengan para Khalifah dari Bani Umayyah, dan Bani Abbasiyah maka jumlah keseluruhan sudah jauh melebihi jumlah 12, apalagi jika Khalifah Usmaniyah juga dimasukkan. Lantas siapa yang layak dan siapa yang harus dibuang dari jajaran kekhalifahan pasca wafat Rasul itu?

– Kedua: Silahkan perhatikan kumpulan contoh riwayat dan hadis diatas dimana hadis-hadis tantang khalifah yang dikatakan bahwa semua dari Quraisy, ternyata ada pengkhususan dengan adanya riwayat yang mengatakan bahwa mereka hanya dari Bani Hasyim (bagian kecil dari Quraisy) saja, yang layak menjadi Khalifah! Jelas realita sejarahnya adalah bahwa tidak semua yang bergelar Khalifah dari Bani Hasyim, walau sebagian dari 4 Khulafaurrasyidin sekalipun, apalagi para penguasa Bani Umayyah. Kenapa dan apa landasan hukum mereka yang bukan dari Bani Hasyim namun mengaku sebagai Khalifah pasca Rasul? Apakah mereka layak mendapat gelar Khalifah Rasul, jika tidak tergolong Bani Hasyim?


– Ketiga: Siapa saja pribadi-pribadi dari 12 orang Bani Hasyim yang berhak menduduki kepemiminan umat ini, untuk menduduki kedudukan Rasul sebagai pemimpin umat Islam?
Ingat, bahwa janji Allah s.w.t untuk memenangkan agama-Nya atas semua agama ada pada kepemimpinan 12 orang pilihan Allah dan Rasul-Nya tersebut, dimana kesemuanya dari Suku Quraisy dan lebih khusus pada Bani Hasyim. Sekarang silahkan merujuk ke segenap ulama Ahlusunah yang ada di sekitar anda, niscaya akan anda dapati kebenaran ungkapan Ibnu Hajar bahwa mereka tidak ada kesepakatan dan mengalami kebingungan yang hebat. Silahkan buktikan!!!

Sabtu, 29 Oktober 2016

KITAB SUCI ZABUR, TAURAT, INJIL DAN QUR'AN SELALU TERKAIT DAN MELENGKAPI.







Kitab Suci Allah SWT : Taurat, Zabur, Injil & AlQuran - Kitab Suci Agama Islam yang Wajib Diimani Kaum Muslim - Agama Islam. Dalam agama Islam dikenal empat buah kitab yang wajib kita percaya serta kita imani. Jumlah kitab suci sebenarnya tidak dijelaskan dalam Alquran dan juga dalam Hadis. Selain dari kitab Allah yang diturunkan melalui rosul melalui malaikat jibril, kita juga bisa berpedoman pada hadist nabi Muhammah SAW dan sahifah-sahifah / suhuf / lembaran firman Allah SWT yang diturunkan pada nabi Adam, Ibrahim dan Musa AS.
Percaya pada kitab-kitab Allah SWT hukumnya adalah wajib 'ain atau wajib bagi seluruh warga muslimin di seluruh dunia. Dilihat dari pengertian atau arti definisi, kitab Allah SWT adalah kitab suci yang merupakan wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT melalui rasul-rasulnya untuk dijadikan pedoman hidup umat manusia sepanjang masa. Orang yang mengingkari serta tidak percaya kepada Alquran disebut orang-orang yang murtad.
Daftar kitab Allah SWT beserta Rasul penerima wahyunya :
1. Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa AS berbahasa Ibrani
Kitab Taurat atau Torah dalam bahasa Ibrani adalah lima kitab pertama Tanakh atau Alkitab Perjanjian Lama. Kitab Taurat dalam bahasa Yunani disebut Pentateukh.
Kelima kitab ini adalah:
l Kejadian, bahasa Latin: Genesis, bahasa Ibrani: beresyit (ื‘ืจืืฉื™ืช),
l Keluaran, bahasa Latin: Exodus, bahasa Ibrani syemot (ืฉืžื•ืช),
l Imamat, bahasa Latin: Leviticus, bahasa Ibrani wayyikra (ื•ื™ืงืจื),
l Bilangan, bahasa Latin: Numerii, bahasa Ibrani bemidbar (ื‘ืžื“ื‘ืจ) dan
l Ulangan, bahasa Latin: Deuteronomium, bahasa Ibrani debarim (ื“ื‘ืจื™ื).
Nama-nama Latin berasal dari Septuaginta. Kelima buku pertama ini dianggap penting karena kelima buku ini memuat peraturan-peraturan yang dipercayai ditulis oleh Musa.
Menurut tradisi kitab Taurat ditulis oleh nabi Musa, sedang kematiannya yang tercatat pada Kitab Ulangan pasal 34 dituliskan oleh penerusnya, Yosua.Contoh serupa adalah kitab Yeremia, yang pada akhirnya di kitab tersebut dituliskan "sampai di sinilah perkataan-perkataan Yeremia" (Yeremia 51:64) namun kitab tersebut masih dilanjutkan (kebanyakan berisi sejarah dan kejadian yang terjadi setelah perkataan Yeremia berakhir).
Kata Taurat sendiri sebenarnya berarti pengajaran oleh Allah. Kata ini diterapkan kepada Kesepuluh Hukum (Dasa Titah), kemudian pada segala hukum dan peraturan dari Tuhan.
Orang Samaria mengakui kelima kitab Taurat ini sebagai kitab suci mereka, namun mereka menolak kitab-kitab lainnya yang terdapat di dalam Perjanjian Lama
2. Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Daud AS berbahasa Qibti
Zabur (bahasa Arab: ุฒุจูˆุฑ) disamakan oleh sebagian ulama dengan Mazmur, yang menurut Islam, adalah salah satu kitab suci yang diturunkan sebelum Al-Qur'an (selain Taurat dan Injil).
Istilah zabur adalah persamaan dengan istilah Ibrani zimra, bermaksud "lagu, musik." Ia, bersama dengan zamir ("lagu") dan mizmor ("mazmur" atau psalm), merupakan derivasi zamar, artinya "nyanyi, nyannyikan pujian, buatkan musik."
Umat Muslim percaya bahwa zabur adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada kaum Bani Israil melalui utusannya yang bernama Nabi Daud
Zabur menurut hadits
Satu hadits dari sahih Bukhari, mengatakan: Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda,
"Pembacaan Zabur dimudahkan bagi Daud. Dia sering mengarahkan agar binatang tunggangannya diletakkan pelana, dan mampu menghabiskan bacaan Zabur sebelum pelana siap diletakkan. Dan dia tidak akan makan tetapi hasil dari kerjanya sendiri."
3. Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa AS berbahasa Suryani
Injil (Yunani: ฮตฯ…ฮฑฮณฮณฮญฮปฮนฮฟฮฝ/euangelion - "kabar baik" atau "berita baik" atau "berita suka cita") adalah istilah yang digunakan untuk menyebut keempat kitab pertama dalam Alkitab Perjanjian Baru. Kitab-kitab tersebut adalah: Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yohanes. Kata injil sendiri berasal dari bahasa Arab
Injil biasanya mengandung arti:
l Pemberitaan tentang aktivitas penyelamatan Allah di dalam Yesus dari Nazaret atau berita yang disampaikan oleh Yesus dari Nazaret. Inilah asal-usul penggunaan kata "Injil" menurut Perjanjian Baru (lihat Surat Roma 1:1 atau Markus 1:1).
l Dalam pengertian yang lebih populer, kata ini merujuk kepada keempat Injil kanonik (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) dan kadang-kadang juga karya-karya lainnya yang non-kanonik (mis. Injil Tomas), yang menyampaikan kisah kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus.
l Sejumlah sarjana modern menggunakan istilah "Injil" untuk menunjuk kepada sebuah genre hipotetis dari sastra Kristen perdana (bdk. Peter Stuhlmacher, ed., Das Evangelium und die Evangelien, Tรผbingen 1983, juga dalam bahasa Inggris: The Gospel and the Gospels).
Kata "injil" dipergunakan oleh Paulus sebelum kitab-kitab Injil dari kanon Perjanjian Baru ditulis, ketika ia mengingatkan orang-orang Kristen di Korintus "kepada Injil yang aku beritakan kepadamu" (1 Korintus 15:1). Melalui berita itu, Paul menegaskan, mereka diselamatkan, dan ia menggambarkannya di dalam pengertian yang paling sederhana, sambil menekankan penampakan Kristus setelah kebangkitan (15:3-8):
"... bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya."
Penggunaan kata injil (atau ekuivalennya dalam bahasa Yunani evangelion) untuk merujuk pada suatu genre tulisan yang khas yang berasal dari abad ke-2. Kata ini jelas digunakan untuk menunjuk suatu genre dalam Yustinus Martir (l.k. 155) dan dalam pengertian yang lebih kabur sebelumnya dalam Ignatius dari Antiokhia (l.k. 117).
Kitab Injil beraksara Arab-Melayu yang disebarkan Belanda di Kalimantan Selatan koleksi Museum Lambung Mangkurat.
Kitab Perjanjian Baru terbit antara tahun 50 dan 100 Masehi. Yang mula-mula adalah Surat-surat Paulus, kemudian barulah bagian-bagian lain. Beberapa abad sesudah Masehi, Gereja baru mensahkan kanon Kitab Perjanjian Baru setelah urutannya diubah dan sedapat mungkin disesuaikan dengan Sejarah Keselamatan (Intisari Iman Kristen oleh Ds.B.J. Boland, 1964).
Umumnya boleh dikatakan bahwa kanon Perjanjian Baru sudah ditetapkan kira-kira pada tahun 200, secara definitif pada tahun 380 (Sejarah Gereja oleh Dr. H. Berkhof dan Dr.I.H. Enklaar, 1962).
De Arameesche tekst van het Mattheus-evengelie is reeds vroegtijdig gegaan. De andrere drie evangelien, zijn in het Grieksch geschreven. De boeken van de Heilige Schrift, zelfs de evengelien, zijn niet volkomen in de zelfds toestand bewaard gebleven, waarin zijoorspronkelijk zijn geschreven. Daar de boekdrukkeenst niet bestond, warden zij eeuwen long telkens overgeschreven en hijdat overschrijoen werden soms woorden uitgelaten, verwisseld of verkeerd geschreven ... Artinya : Injil Matius yang berbahasa Arami telah lama hilang. Tiga Injil lainnya ditulis dalam bahasa Yunani. Buku-buku dari Kitab Suci juga injil-injilnya tidak tersimpan dengan sempurna dalam keadaan yang sama, dalam mana itu asalnya ditulis. Karena tidak adanya cetak-mencetak buku maka seringkali dilakukan pemindahtulisan berabad-abad lamanya, dan dalam memindahtuliskan itu kadang-kadang terjadi penghapusan kata-kata, penukaran kata-kata atau penulisan terbalik ... (Het Evangelie, 1929, Badan Perpustakaan Petrus Canisius)
Injil kanonik
Dari banyak injil yang ditulis, ada empat injil yang diterima sebagai bagian dari Perjanjian Baru dan dikanonkan. Hal ini merupakan tema utama dalam sebuah tulisan oleh Irenaeus, l.k. 185.
Dalam tulisannya yang diberi judul "Melawan Kesesatan" Irenaeus menentang beberapa kelompok Kristen yang menggunakan hanya satu Injil saja, seperti kelompok Marsion - yang menggunakan versi Injil Lukas yang sudah diubah sedemikian rupa. Irenaeus juga menentang beberapa kelompok yang menekankan tulisan-tulisan berisi wahyu-wahyu baru, seperti kelompok Valentinius (A.H. 1.11.9).
Irenaeus menyatakan bahwa ada empat injil yang adalah tiang-tiang gereja.
“tak mungkin ada lebih atau kurang daripada empat," katanya, sambil mengajukan analogi sebagai logikanya bahwa ada empat penjuru dunia dan empat arah angin (1.11.8). Citranya ini, yang diambil dari Kitab Yehezkiel 1:10, tentang takhta Allah yang didukung oleh empat makhluk dengan empat wajah—"Keempatnya mempunyai muka manusia di depan, muka singa di sebelah kanan, muka lembu di sebelah kiri, dan muka rajawali di belakang"— ekuivalen dengan Injil yang "berwajah empat", adalah lambang-lambang konvensional dari para penulis Injil: singa, lembu, rajawali, dan manusia. Irenaeus berhasil menyatakan bahwa keempat Injil itu bersama-sama, dan hanya keempat Injil inilah, yang mengandung kebenaran. Dengan membaca masing-masing Injil di dalam terang yang lainnya, Irenaeus menjadikan Yohanes sebagai lensa untuk membaca Matius, Markus dan Lukas.
Pada peralihan abad ke-5, Gereja Barat di bawah Paus Inosentus I, mengakui sebuah kanon Alkitab yang meliputi keempat Injil yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, yang sebelumnya telah ditetapkan pada sejumlah Sinode regional, yaitu Konsili Roma (382), Sinode Hippo (393), dan dua Sinode Karthago (397 dan 419).[1] Kanon ini, yang sesuai dengan kanon Katolik modern, digunakan dalam Vulgata, sebuah terjemahan Alkitab dari awal abad ke-5 yang dikerjakan oleh Hieronimus[2] atas permintaan Paus Damasus I pada 382.
l Injil Matius
l Injil Markus
l Injil Lukas
l Injil Yohanes
Perkiraan kurun waktu ditulisnya injil bervariasi. Berikut perkiraan kurun waktu yang diberikan oleh Raymond E. Brown, dalam buku-nya "An Introduction to the New Testament", sebagai representasi atas konsensus umum para sarjana, pada tahun 1996:
l Markus: l.k. 68-73
l Matius: l.k. 70-100
l Lukas: l.k. 80-100
l Yohanes: 90-110
Sedangkan, perkiraan kurun waktu yang diberikan dalam NIV Study Bible:
l Markus: l.k. tahun 50-an hingga awal 60-an, atau akhir 60-an
l Matius: l.k. tahun 50-70-an
l Lukas: l.k. tahun 59-63, atau tahun 70-an hingga 80-an
l Yohanes: l.k. tahun 85 hingga mendekati 100, atau tahun 50-an hingga 70
Injil Apokrif
Beberapa injil yang tidak dikanonkan mempunyai keserupaan dalam hal isi dan gaya bahasa, dibandingkan dengan injil-injil kanonik. Kebanyakan (yang lainnya) adalah gnostik dalam hal isi dan gaya bahasa, mempresentasikan / mengemukakan ajaran-ajaran dari sudut pandang yang sangat berbeda.
Injil-injil ini termasuk dalam tulisan-tulisan apokrif :
l Injil Tomas
l Injil Yudas
l Injil Filipus
l Injil Petrus
l Injil Maria Magdalena
l Injil Yakobus
l Injil Bartolomeus
l Injil Barnabas
l Injil Andreas
l Injil Nikodemus
l Injil Matias
l Injil Mesir
l Injil Ibrani
l Injil Nazaret
l Injil Ebionim (Ebionites)
l Injil Hawa
l Injil Kebenaran
l Injil Kesempurnaan
l Injil Empat Alam Surgawi (Four Heavenly Realms)
l Injil Dua Belas
l Injil Tujuh Puluh
l Injil Tadeus
l Injil Cerinthus
l Injil Basilides
l Injil Marsion
l Injil Appelles
l Injil Bardesanes
l Injil Mani
l Lihat juga "Injil Hermes" yang disalah-mengerti.
Kitab yang sering disebut sebagai Injil Barnabas adalah pemalsuan abad ke-16 M. Penulisannya menggunakan bahasa Italia.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia yang beredar di Indonesia diterjemahkan dari buku yang ditulis oleh Laura dan Racc namun komentar-komentar kritisnya tidak diterjemahkan.
4. Kitab Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW berbahasa Arab
Al-Qur'an (ejaan KBBI: Alquran, dalam bahasa Arab ู‚ُุฑْุขู†) adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam memercayai bahwa Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril.
Ditinjau dari segi kebahasaan (etimologi), Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti "bacaan" atau "sesuatu yang dibaca berulang-ulang". Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang artinya membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah satu surat Al-Qur'an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah Al-Qiyamah yang artinya:
“Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti bacaannya”.(75:17-75:18)
Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut:
“Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir di mana membacanya termasuk ibadah”.
Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut:
"Al-Qur'an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas"
Dengan definisi tersebut di atas sebagaimana dipercayai Muslim, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi selain Nabi Muhammad SAW, tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Kitab Taurat yang diturunkan kepada umat Nabi Musa AS atau Kitab Injil yang diturunkan kepada umat Nabi Isa AS. Demikian pula firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak termasuk Al-Qur’an.
Nama-nama lain Al-Qur'an
l Al-Kitab, QS(2:2),QS (44:2)
l Al-Furqan (pembeda benar salah): QS(25:1)
l Adz-Dzikr (pemberi peringatan): QS(15:9)
l Al-Mau'idhah (pelajaran/nasehat): QS(10:57)
l Al-Hukm (peraturan/hukum): QS(13:37)
l Al-Hikmah (kebijaksanaan): QS(17:39)
l Asy-Syifa' (obat/penyembuh): QS(10:57), QS(17:82)
l Al-Huda (petunjuk): QS(72:13), QS(9:33)
l At-Tanzil (yang diturunkan): QS(26:192)
l Ar-Rahmat (karunia): QS(27:77)
l Ar-Ruh (ruh): QS(42:52)
l Al-Bayan (penerang): QS(3:138)
l Al-Kalam (ucapan/firman): QS(9:6)
l Al-Busyra (kabar gembira): QS(16:102)
l An-Nur (cahaya): QS(4:174)
l Al-Basha'ir (pedoman): QS(45:20)
l Al-Balagh (penyampaian/kabar) QS(14:52)
l Al-Qaul (perkataan/ucapan) QS(28:51)
Al-Qur'an terdiri atas 114 bagian yang dikenal dengan nama surah (surat). Setiap surat akan terdiri atas beberapa ayat, di mana surat terpanjang dengan 286 ayat adalah surat Al Baqarah dan yang terpendek hanya memiliki 3 ayat yakni surat Al Kautsar dan Al-‘Aศ™r. Total jumlah ayat dalam Al-Qur'an mencapai 6236 ayat di mana jumlah ini dapat bervariasi menurut pendapat tertentu namun bukan disebabkan perbedaan isi melainkan karena cara/aturan menghitung yang diterapkan. Surat-surat yang panjang terbagi lagi atas sub bagian lagi yang disebut ruku' yang membahas tema atau topik tertentu.
Sedangkan menurut tempat diturunkannya, setiap surat dapat dibagi atas surat-surat Makkiyah (surat Mekkah) dan Madaniyah (surat Madinah). Pembagian ini berdasarkan tempat dan waktu penurunan surat dan ayat tertentu di mana surat-surat yang turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah digolongkan surat Makkiyah sedangkan setelahnya tergolong surat Madaniyah. Pembagian berdasar fase sebelum dan sesudah hijrah ini lebih tepat,sebab ada surat Madaniyah yang turun di Mekkah
Dalam skema pembagian lain, Al-Qur'an juga terbagi menjadi 30 bagian dengan panjang sama yang dikenal dengan nama juz. Pembagian ini untuk memudahkan mereka yang ingin menuntaskan bacaan Al-Qur'an dalam 30 hari (satu bulan). Pembagian lain yakni manzil memecah Al-Qur'an menjadi 7 bagian dengan tujuan penyelesaian bacaan dalam 7 hari (satu minggu). Kedua jenis pembagian ini tidak memiliki hubungan dengan pembagian subyek bahasan tertentu.
Kemudian dari segi panjang-pendeknya, surat-surat yang ada didalam Al-Qur’an terbagi menjadi empat bagian, yaitu:
l As Sab’uththiwaal (tujuh surat yang panjang). Yaitu Surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisaa’, Al-A’raaf, Al-An’aam, Al Maa-idah dan Yunus
l Al Miuun (seratus ayat lebih), seperti Hud, Yusuf, Mu'min dan sebagainya
l Al Matsaani (kurang sedikit dari seratus ayat), seperti Al-Anfaal, Al-Hijr dan sebagainya
l Al Mufashshal (surat-surat pendek), seperti Adh-Dhuha, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan sebagainya
Sejarah Al-Qur'an hingga berbentuk mushaf
l Penurunan Al-Qur'an
Dipercayai oleh umat Islam bahwa penurunan Al-Qur'an terjadi secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Oleh para ulama membagi masa turun ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah berlangsung selama 13 tahun masa kenabian Rasulullah SAW dan surat-surat yang turun pada waktu ini tergolong surat Makkiyyah. Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu ini disebut surat Madaniyah.
l Penulisan Al-Qur'an dan perkembangannya
Penulisan (pencatatan dalam bentuk teks) Al-Qur'an sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Kemudian transformasinya menjadi teks yang dijumpai saat ini selesai dilakukan pada zaman khalifah Utsman bin Affan.
l Pengumpulan Al-Qur'an di masa Rasullulah SAW
Pada masa ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur'an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an setelah wahyu diturunkan.
l Pengumpulan Al-Qur'an di masa Khulafaur Rasyidin
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi beberapa pertempuran (dalam perang yang dikenal dengan nama perang Ridda) yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur'an dalam jumlah yang signifikan. Umar bin Khattab yang saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut lantas meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur'an yang saat itu tersebar di antara para sahabat. Abu Bakar lantas memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur'an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar. Abu Bakar menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya mushaf dipegang oleh anaknya yakni Hafsah yang juga istri Nabi Muhammad SAW.
Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan Al-Qur'an (qira'at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah) yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku. Standar tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan (rasam) Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Bersamaan dengan standarisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar yang dihasilkan diperintahkan untuk dimusnahkan (dibakar). Dengan proses ini Utsman berhasil mencegah bahaya laten terjadinya perselisihan di antara umat Islam di masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur'an.
Mengutip hadist riwayat Ibnu Abi Dawud dalam Al-Mashahif, dengan sanad yang shahih:
Suwaid bin Ghaflah berkata, "Ali mengatakan: Katakanlah segala yang baik tentang Utsman. Demi Allah, apa yang telah dilakukannya mengenai mushaf-mushaf Al Qur'an sudah atas persetujuan kami. Utsman berkata, 'Bagaimana pendapatmu tentang isu qira'at ini? Saya mendapat berita bahwa sebagian mereka mengatakan bahwa qira'atnya lebih baik dari qira'at orang lain. Ini hampir menjadi suatu kekufuran'. Kami berkata, 'Bagaimana pendapatmu?' Ia menjawab, 'Aku berpendapat agar umat bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan.' Kami berkata, 'Pendapatmu sangat baik'."
Menurut Syaikh Manna' Al-Qaththan dalam Mahabits fi 'Ulum Al Qur'an, keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman telah disepakati oleh para sahabat. Demikianlah selanjutnya Utsman mengirim utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Lalu Utsman memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin Az-Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam. Ia memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika ada perbedaan antara Zaid dengan ketiga orang Quraish tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena Al Qur'an turun dalam dialek bahasa mereka. Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di Madinah (mushaf al-Imam).
Upaya penerjemahan dan penafsiran Al Qur'an
Upaya-upaya untuk mengetahui isi dan maksud Al Qur'an telah menghasilkan proses penerjemahan (literal) dan penafsiran (lebih dalam, mengupas makna) dalam berbagai bahasa. Namun demikian hasil usaha tersebut dianggap sebatas usaha manusia dan bukan usaha untuk menduplikasi atau menggantikan teks yang asli dalam bahasa Arab. Kedudukan terjemahan dan tafsir yang dihasilkan tidak sama dengan Al-Qur'an itu sendiri.
Terjemahan
Terjemahan Al-Qur'an adalah hasil usaha penerjemahan secara literal teks Al-Qur'an yang tidak dibarengi dengan usaha interpretasi lebih jauh. Terjemahan secara literal tidak boleh dianggap sebagai arti sesungguhnya dari Al-Qur'an. Sebab Al-Qur'an menggunakan suatu lafazh dengan berbagai gaya dan untuk suatu maksud yang bervariasi; terkadang untuk arti hakiki, terkadang pula untuk arti majazi (kiasan) atau arti dan maksud lainnya.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia di antaranya dilaksanakan oleh:
l Al-Qur'an dan Terjemahannya, oleh Departemen Agama Republik Indonesia, ada dua edisi revisi, yaitu tahun 1989 dan 2002
l Terjemah Al-Qur'an, oleh Prof. Mahmud Yunus
l An-Nur, oleh Prof. T.M. Hasbi Ash-Siddieqy
l Al-Furqan, oleh A.Hassan guru PERSIS
Terjemahan dalam bahasa Inggris
l The Holy Qur'an: Text, Translation and Commentary, oleh Abdullah Yusuf Ali
l The Meaning of the Holy Qur'an, oleh Marmaduke Pickthall
Terjemahan dalam bahasa daerah Indonesia di antaranya dilaksanakan oleh:
l Qur'an Kejawen (bahasa Jawa), oleh Kemajuan Islam Jogyakarta
l Qur'an Suadawiah (bahasa Sunda)
l Qur'an bahasa Sunda oleh K.H. Qomaruddien
l Al-Ibriz (bahasa Jawa), oleh K. Bisyri Mustafa Rembang
l Al-Qur'an Suci Basa Jawi (bahasa Jawa), oleh Prof. K.H.R. Muhamad Adnan
l Al-Amin (bahasa Sunda)
Tafsir
Upaya penafsiran Al-Qur'an telah berkembang sejak semasa hidupnya Nabi Muhammad, saat itu para sahabat tinggal menanyakan kepada sang Nabi jika memerlukan penjelasan atas ayat tertentu. Kemudian setelah wafatnya Nabi Muhammad hingga saat ini usaha menggali lebih dalam ayat-ayat Al-Qur'an terus berlanjut. Pendekatan (metodologi) yang digunakan juga beragam, mulai dari metode analitik, tematik, hingga perbandingan antar ayat. Corak yang dihasilkan juga beragam, terdapat tafsir dengan corak sastra-bahasa, sastra-budaya, filsafat dan teologis bahkan corak ilmiah.
Adab Terhadap Al-Qur'an
Sebelum menyentuh sebuah mushaf Al-Qur'an, seorang Muslim dianjurkan untuk menyucikan dirinya terlebih dahulu dengan berwudhu. Hal ini berdasarkan tradisi dan interpretasi secara literal dari surat Al Waaqi'ah ayat 77 hingga 79.
Terjemahannya antara lain:56-77. Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, 56-78. pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), 56-79. tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (56:77-56:79)
Penghormatan terhadap teks tertulis Al-Qur'an adalah salah satu unsur penting kepercayaan bagi sebagian besar Muslim. Mereka memercayai bahwa penghinaan secara sengaja terhadap Al Qur'an adalah sebuah bentuk penghinaan serius terhadap sesuatu yang suci. Berdasarkan hukum pada beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim, hukuman untuk hal ini dapat berupa penjara kurungan dalam waktu yang lama dan bahkan ada yang menerapkan hukuman mati.
Hubungan dengan kitab-kitab lain
Berkaitan dengan adanya kitab-kitab yang dipercayai diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad SAW dalam agama Islam (Taurat, Zabur, Injil, lembaran Ibrahim), Al-Qur'an dalam beberapa ayatnya menegaskan posisinya terhadap kitab-kitab tersebut. Berikut adalah pernyataan Al-Qur'an yang tentunya menjadi doktrin bagi ummat Islam mengenai hubungan Al-Qur'an dengan kitab-kitab tersebut:
l Bahwa Al-Qur'an menuntut kepercayaan ummat Islam terhadap eksistensi kitab-kitab tersebut. QS(2:4)
l Bahwa Al-Qur'an diposisikan sebagai pembenar dan batu ujian (verifikator) bagi kitab-kitab sebelumnya. QS(5:48)
l Bahwa Al-Qur'an menjadi referensi untuk menghilangkan perselisihan pendapat antara ummat-ummat rasul yang berbeda. QS(16:63-64)
l Bahwa Al-Qur'an meluruskan sejarah. Dalam Al-Qur'an terdapat cerita-cerita mengenai kaum dari rasul-rasul terdahulu, juga mengenai beberapa bagian mengenai kehidupan para rasul tersebut. Cerita tersebut pada beberapa aspek penting berbeda dengan versi yang terdapat pada teks-teks lain yang dimiliki baik oleh Yahudi dan Kristen.
Tambahan :
Kitab suci injil yang saat ini dijadikan kitab suci oleh kaum nasrani / kristen katolik & protestan sangat berbeda dengan injil yang diwahyukan kepada nabi Isa AS semasa hidupnya untuk kaumnya. Oleh sebab itu datang Alqur'an untuk menjadi penyempurna seluruh kitab suci yang pernah ada.